Halaman

Kamis, 03 Maret 2011

Suara Bising Ancam Kelangsungan Hidup Ikan

Bookmark and Share

Ikan stickleback atau Gasterosteus aculeatus.
Menggunakan speaker tahan air, peneliti memutar suara bising serupa dengan suara yang dihasilkan oleh mesin speedboat. Ternyata, peneliti menemukan bahwa ikan sangat terpengaruh oleh suara bising meski suara tersebut hanya terdengar sebentar saja.

Dari pengujian pada stickleback, atau Gasterosteus aculeatus, sejenis ikan bilis, suara bising membuat mereka melakukan banyak kesalahan dan tidak efisien saat mengonsumsi makanan yang disajikan dibandingkan dengan makan saat di suasana hening.

“Ikan ini tampak terganggu dengan adanya suara bising di sekitarnya sama seperti kita yang sulit berkonsentrasi mengerjakan tugas yang memeras otak saat ada suara bising dari mesin konstruksi di dekat kita,” kata Julia Purser, peneliti dari Bristol University, Inggris.

Seperti dikutip dari ScienceDaily, 3 Maret 2011, pikiran stickleback tampak tidak bisa fokus saat diberi tugas yakni mendekat ke berbagai benda acak. Meski tidak kehilangan nafsu makan, namun dalam kondisi penuh stress, ikan sulit mencari makanannya di tengah suara bising, bahkan meski suara hanya diperdengarkan hanya 10 detik saja.

Kesulitan mencari makan ini konsisten dengan perubahan perhatian saat terekspos suara bising, dan di lingkungannya, kesalahan ini bisa berakibat fatal. “Mereka bisa menelan benda berbahaya dan kesulitan menemukan makanan akan meningkatkan risiko hancurnya sebuah organisme jika mereka harus mendengarkan suara bising jauh lebih lama,” ucap Purser.

Ironisnya, di banyak lingkungan perairan, polusi suara berlangsung dalam periode yang jauh lebih lama dibandingkan dengan polusi suara yang diberikan oleh peneliti pada studi tersebut. Akibat ulah manusia, kebisingan juga terjadi berulang-ulang.

Source/ref: Vivanews.com - Mar 2011

Rabu, 02 Maret 2011

NASA HOTNEWS: 3 Kapal Induk Alien Menuju Bumi!

Bookmark and Share

NASA, SETI (Search for Extraterrestrial Intelligence), sebuah organisasi nonkomersial yang independen, merilis pernyataan sensasional yaitu tiga pesawat ruang angkasa raksasa sedang menuju Bumi. Salah satu yang terbesar dari pesawat itu mempunyai lebar adalah 240 kilometer. Dua pesawat lain lebih kecil. Saat ini, objek berada di luar orbit Pluto.

Pesawat alien ini terdeteksi oleh sistem pencarian HAARP. Sistem, yang berbasis di Alaska, yang dirancang untuk mempelajari fenomena atmosfir. Menurut peneliti SETI, objek luar angkasa ini akan terlihat di teleskop optik segera setelah mereka mencapai orbit Mars. Pemerintah AS dilaporkan telah menerima informasi dan diperkirakan Kapal-kapal akan mencapai Bumi pada bulan Desember 2012.

Perkiraan waktu kedatangan membawa pikiran tentang kalender Maya, yang berakhir pada tanggal 21 Desember 2012. Apakah itu hanya kebetulan? Kemungkinan besar, Meskipun, peneliti SETI juga bisa dianggap aneh karena selama mereka meneliti selama 50 tahun mereka belum menemukan hasil.

Namun demikian, manusia termasuk baru mulai menjelajahi ruang angkasa. “Kami hanya pendatang baru di dunia ini besar dan belum diselidiki. Banyak yang percaya bahwa ada peradaban lain di samping ruang peradaban kita sendiri. “ demikian ilmuwan SETI.

Rumor mengatakan bahwa Amerika menyembunyikan banyak informasi tentang temuan di Bulan. Pada tahun 1988, seorang pejabat China terkemuka, anggota program luar angkasa, meluncurkan gambar jejak kaki manusia di permukaan bulan. Pejabat itu menyatakan bahwa ia telah menerima informasi dari sumber yang dapat dipercaya dan menuduh Amerika menyembunyikan informasi tersebut. Foto-foto itu mulai tanggal 3 Agustus 1969 – dua minggu setelah Armstrong dan Aldrin melangkah ke permukaan Bulan pada tanggal 20 Juli 1969.

Pada tanggal 15 Maret 2009, The New York Times membuat sensasi lain. Pejabat China yang sama, Mao Kan, menyatakan bahwa ia telah memperoleh lebih dari 1.000 foto NASA rahasia tidak hanya foto-foto yang menggambarkan jejak kaki manusia, tetapi bahkan bangkai manusia di permukaan Bulan. Beberapa tulang pada bangkai hilang, kata pejabat itu. Mayat manusia dijatuhkan di Bulan dari pesawat ruang angkasa asing, sedangkan makhluk luar angkasa menyimpan beberapa contoh jaringan untuk penelitian.

Foto-foto itu diambil olehpesawat pengamat bulan. Ketiadaan udara memungkinkan untuk menangkap rincian dari orbit lunar. Gambar-gambar dari karkas itu sangat jelas.

Dr Ken Johnston, mantan Manager Data dan Foto Kontrol Departemen di NASA Lunar Laboratorium, mengatakan bahwa astronot telah menemukan dan memotret reruntuhan kuno buatan di Bulan. Seharusnya, astronot AS telah melihat mekanisme yang tidak diketahui di Bulan. Namun data itu disembunyikan oleh pemerintah AS.

Source/ref: SuryaOnline.com, Jopie's blog - Mar 2011

Rutin Minum Teh, Produktivitas Makin Tinggi

Bookmark and Share

Secangkir teh sehari dapat meningkatkan kinerja otak, mengurangi rasa lelah, dan meningkatkan kewaspadaan seseorang. Demikian hasil penelitian yang dilakukan para ahli di Den Haag, Belanda, seperti dilansir Zee News, belum lama berselang.

Dalam penelitian yang melibatkan 44 relawan berumur di bawah 40 tahun ini, menujukkan bahwa mereka yang rutin meminum teh memiliki tingkat produktivitas lebih tinggi. Bahkan, peningkatan kinerja serta energi tersebut dapat dirasakan hanya dalam waktu 20 sampai 70 menit setelah minum secangkir teh.

BAYI Tidak Bisa Tidur Kalau Ibunya Stres

Bookmark and Share

Terkadang seorang ibu mengaku stres karena bayinya susah tidur malam. Pandangan ini ternyata keliru, sebenarnya bayi yang tidak bisa tidur karena tahu ibunya stres.

Jadi menurut peneliti, jangan di balik cara pandangnya. Bayi yang sulit tidur bukan penyebab ibunya stres, tapi si bayi tidak bisa tidur karena merasakan ibunya sedang stres.

Studi terbaru saat ini menunjukkan bahwa masalah emosi yang dialami oleh seorang ibu dan kebiasaan tidur bayi sangat berkaitan erat, bahkan pada orangtua yang sudah beberapa kali memiliki anak.

Selasa, 01 Maret 2011

Akibat Ulah Manusia, Laut Banjir IKAN TERI

Bookmark and Share

Bagi ikan besar seperti tuna dan cod, seabad terakhir bukanlah masa-masa yang menggembirakan. Populasi mereka menukik tajam akibat penangkapan yang berlebihan. 

Menurut penelitian terbaru terhadap ekosistem kelautan di seluruh dunia, di saat yang sama, populasi ikan yang lebih kecil seperti sarden dan ikan teri melonjak hingga 130 persen.

Perubahan yang terjadi pada keseimbangan rantai makanan ini merupakan perubahan yang tidak sehat apalagi untuk jangka panjang. Para peneliti menyatakan, salah satu cara untuk mengatasinya adalah perubahan pola konsumsi manusia, dari memakan ikan yang menjadi predator ke spesies lain yang ada di bagian bawah rantai makanan.

Sekelompok peneliti yang dipimpin Villy Christensen dari University of British Columbia, Kanada menganalisa sekitar 200 jaringan makanan di seluruh dunia. Menggunakan pemodelan, mereka menggambarkan ekosistem kelautan di berbagai periode waktu dari tahun 1880 sampai 2007.

Seperti dikutip dari Sciencemag, 1 Maret 2011, Christensen dan timnya kemudian memperkirakan distribusi biomassa di dalam ekosistem – misalnya berapa ton jumlah tuna atau udang – lalu mengekstrapolasi untuk menghitung jumlahnya di seluruh samudera.

Hasilnya, meski pada saat ini peneliti belum bisa menentukan jumlah absolutnya, biomassa ikan berukuran besar telah menurun hingga dua pertiganya dalam 100 tahun terakhir. Dalam 40 tahun belakangan, biomassa mereka turun hingga 54 persen meski penurunannya tidak separah pada 2 dekade lalu.

Yang tidak mengherankan, ikan-ikan yang sebelumnya menjadi mangsa ikan-ikan besar mengalami peningkatan. Biomassa mereka meningkat hingga 0,85 persen per tahun. Dan selama abad terakhir, angkanya telah berlipat ganda.

“Samudera kini sudah sangat berbeda,” kata Christensen. “Di banyak tempat, ikan kecil ini masih menjadi makanan, namun di kawasan seperti barat daya Afrika dan tempat lain, pemangsa ikan-ikan kecil itu sudah tergantikan,” ucapnya.

Christensen menyebutkan, dengan memilih makan sarden, ikan teri dan sejenisnya dan tidak memakan ikan todak, misalnya, manusia bisa menyelamatkan populasi para predator utama di rantai makanan yang kini kian menyusut.

Perubahan pada biomassa laut ini, kata Michael Hirshfield, Chief Scientist of the Advocacy Group Oceana, Washington, sangatlah mengkhawatirkan. “Populasi ikan kecil cenderung meledak dan kemudian rusak – membuat ekosistem menjadi tidak stabil,” ucapnya. “Apalagi jika predator yang ada di atasnya telah musnah,” ucapnya.

Source/ref: Vivanews.com - Mar 2011 

Dapatkah Manusia Berhibernasi?

Bookmark and Share

Terkadang, kasus ajaib manusia berada dalam keadaan seperti hibernasi sering dilaporkan. Namun, benarkah manusia bisa berhibernasi layaknya beruang?

Pada 2006, seorang pria (35) diselamatkan dari lereng gunung salju di Jepang setelah hilang selama 24 hari. Pria tampak bisa bertahan hidup dengan memasuki keadaan mati suri dimana organ dimatikan, suhu tubuh turun menjadi 71 derajat, dan metabolismenya...melambat, bahkan hampir berhenti.

Selanjutnya, pria itu pulih secara penuh. Bagaimana bisa kejadian luar biasa ini terjadi? Apakah pria Jepang itu benar-benar berhibernasi seperti beruang? Apakah kemampuan bangun dari tidur berkepanjangan terbatas pada beberapa orang beruntung atau semua orang bisa melakukannya?

Banyak ilmuwan percaya, cerita-cerita aneh bertahan hidup itu bukanlah cerita bohong belaka atau cerita yang dibesar-besarkan media, melainkan manifestasi kemampuan laten untuk hibernasi yang dimiliki semua manusia.

Ahli biologi sel Mark Roth bersama rekan di Fred Hutchinson Cancer Research Center di Seattle menyatakan, hidrogen sulfida menjadi kunci mati suri. Dalam percobaan pada 2005, para peneliti menginduksi hibernasi untuk pertama kalinya pada tikus laboratorium dengan menghirup dosis besar gas hidrogen sulfida.

Bahan kimia pun terikat dengan sel-sel di tempat oksigen dan secara efektif mematikan semua proses metabolisme pada tikus serta secara signifikan mengurangi suhu tubuh tikus. Pada jam berikutnya ketika ilmuwan menggantikan hidrogen sulfida dengan udara normal, tikus keluar dari hibernasi dan tak menunjukkan efek samping.

“Kami rasa hal ini adalah kemampuan laten yang dimiliki semua mamalia, termasuk manusia. Kami hanya memanfaatkannya kemudian mengidup dan mematikannya. Hal ini membuat keadaan hibernasi bisa dilakukan sesuai permintaan,” kata Roth LiveScience tak lama setelah studi ini diterbitkan di jurnal Science.

Sejak itu, peneliti di Lab Roth terus bereksperimen dengan bahan kimia. Mereka mempelajari dampaknya pada C. elegans, spesies cacing gelang. “Cacing memiliki respon yang sama persis seperti manusia pada hidrogen sulfida,” kata rekan roth di Lab Roth, Jason Pitt.

“Jika Anda terkena hidrogen sulfida, Anda akan ‘pingsan’. Segera kehilangan kesadaran dan jika terlalu lama Anda akan mati. Jika Anda menggantinya dengan udara segar, Anda akan pulih. Cacing kecil ini juga melakukan hal sama”.

Karena manusia dan cacing serupa dalam merespon hidrogen sulfida, hal ini membuat reaksi senyawa itu lebih mudah dipecahkan pada cacing daripada manusia. Cacing itu menjadi organisme sempurna untuk mempelajari efek menarik bahan kimia tersebut.

Suatu hari nanti, peneliti berharap gas itu bisa digunakan menginduksi hibernasi pada manusia, yang dapat memungkinkan segala sesuatu mulai dari perjalanan ke luar angkasa jarak jauh hingga mati suri selama pemulihan trauma.

Perlu ke Yupiter namun tak dapat memasukkan makanan yang cukup ke pesawat? Maka berhibernasilah. Butuh transplantasi ginjal tapi tak memiliki donor organnya? Tidur saja dan tunggu donor yang cocok.

Sayangnya, penelitian belum sampai pada titik itu. “Karena kita tak tahu banyak tentang cara kerja hidrogen sulfida dan kita belum mampu melakukan hal yang sama pada orang seperti yang kita lakukan pada organisme lain,” papar Pitt.

“Kami mulai mempelajari lebih lanjut cara kerja agen itu. Dengan mempelajari molekul terkait dan bagaimana cara kerjanya, kami mulai tergoda dengan apa yang akan terjadi”. Bahkan, jika paparan gas itu akhirnya dapat digunakan untuk menginduksi mati suri pada manusia, bagaimana hal itu menjelaskan kasus manusia yang kebetulan berhibernasi?

”Karena penelitian awal lab kami, banyak orang menunjukkan bahwa hidrogen sulfida secara endogen ada dalam tubuh manusia,” kata Pitt. “Hal ini dibuktikan adanya semacam peraturan molekul internal yang ada di semua tubuh manusia. Namun, kita belum tahu apa itu dan bagaimana cara kerjanya”.

Meski tak mengklaim mengetahui segalanya, para ilmuwan itu berpikir bahwa bahan kimia itu sudah ada dalam tubuh kita sejak kehidupan muncul 3,5 miliar tahun silam.

Sangat masuk akal manusia dan mamalia lain memiliki kemampuan laten memasuki kondisi mati suri,” kata Pitt. “Pada awal sejarah Bumi di saat oksigen tidak ada. Manusia memang memiliki senyawa sulfur seperti hidrogen sulfida”.

Terdapat organisme di luar sana berada di lingkungan ekstrim yang bernapas dengan hidrogen sulfida. “Tampaknya manusia berasal dari lingkungan itu. Karena biologi membawa ‘bagasi’ di sekitarnya, tak heran jika manusia memiliki kemampuan melakukan beberapa reaksi kimia yang cukup kuno ketika oksigen pertama mulai muncul dan ketika cyanobacteria mulai mengubah kimia bumi”.

Banyak jenis bakteri yang mampu menyalakan dan mematikan metabolisme mereka sebagai mekanisme bertahan hidup. Menurut Pitt, manusia tak jauh beda. “Sel-sel eukariotik kita merupakan organisme simbiosis,” katanya. Mitokondria manusia berevolusi dari bakteri dan pada dasarnya manusia lebih mirip dengan bakteri itu. 

Source/ref: Inilah.com - 27 Feb 2011

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More